Laman

Sabtu, 23 Juni 2012

Bahan Galian Industri

Bahan Galian Industri serta penggolongannya

 2.1.1. Penggolongan bahan galian berdasarkan Pemanfaatannya

Bahan galian menurut pemanfaatannya dikelompokkan atas tiga golongan :

§    Bahan galian Logam / Bijih (Ore); merupakan bahan galian yang bila dioleh dengan teknologi tertentu akan dapat diambil dan dimanfaatkan logamnya, seperti timah, besi, tembaga, nikel, emas, perak, seng, dll

§    Bahan galian Energi; merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk energi, misalnya batubara dan minyak bumi.

§    Bahan galian Industri; merupakan bahan galian yang dimanfaatkan untuk industri, seperti asbes, aspal, bentonit, batugamping, dolomit, diatomae, gipsum, halit, talk, kaolin, zeolit, tras.

 2.1.2. Penggolongan bahan galian di Republik Indonesia

Di Indonesia, penggolongan bahan galian dapat dilihat dalam Undang-Undang No 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. Dalam UU ini, bahan galian dibagi atas tiga golongan :

§         golongan bahan galian strategis (Golongan A)

§         golongan bahan galian vital (Golongan B)

§         golongan bahan galian yang tidak termasuk dalam Golongan A atau B.

Penggolongan bahan-bahan galian didasari pada :

a.      Nilai strategis/ekonomis bahan galian terhadap Negara;

b.      Terdapatnya sesuatu bahan galian dalam alam (genese);

c.       Penggunaan bahan galian bagi industri;

d.      Pengaruhnya  terhadap kehidupan rakyat banyak;

e.      Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha;

f.        Penyebaran pembangunan di Daerah

Selanjutnya UU 11/1967 ini ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah Tentang Penggolongan Bahan Galian (PP No 27/1980), yang menyatakan sebagai berikut:

a. Golongan bahan galian yang strategis adalah:

-         minyak  bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam;

-         bitumen padat, aspal;

-         antrasit, batubara, batubara muda;

-         uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktip lainnya;

-         nikel, kobalt;

-         timah

b. Golongan bahan galian yang vital adalah:

-         besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;

-         bauksit, tembaga, timbal, seng;

-         emas, platina, perak, air raksa, intan;

-         arsin, antimon, bismut;

-         yttrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;

-         berillium, korundum, zirkon, kristal kwarsa;

-         kriolit, fluorpar, barit;

-         yodium, brom, khlor, belerang;

c. Golongan bahan galian yang tidak termasuk golongan A atau B adalah:

-         nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);

-         asbes, talk, mika, grafit, magnesit;

-         yarosit, leusit, tawas (alum), oker;

-         batu permata, batu setengah permata;

-         pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;

-         batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);

-         marmer, batu tulis;

-         batu kapur, dolomit, kalsit;

-         granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsur-unsur  mineral golongan a amupun golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

Sementara itu, dalam bagian Penjelasan, dicantumkan bawa arti penggolongan bahan-bahan galian adalah :

    Bahan galian Strategis berarti strategis untuk Pertahanan dan Keamanan serta Perekonomian Negara;
    Bahan galian Vital berarti dapat menjamin hajat hidup orang banyak;
    Bahan galian yang tidak termasuk bahan galian Strategis dan Vital berarti karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional.

Dari penggolongan bahan galian di atas, terlihat bahwa bahan galian industri sebagian besar termasuk ke dalam bahan galian golongan C, walaupun beberapa jenis termasuk dalam bahan galian golongan yang lain.

 2.2. Bahan Galian Industri

2.2.1. Penggolongan bahan galian industri berdasarkan cara terbentuknya

Penggolongan bahan galian industri berdasarkan atas asosiasi dengan batuan tempat terdapatnya, dengan mengacu pada Tushadi dkk [1990, dalam Sukandarumidi, 1999] adalah sebagai berikut :

a.      Kelompok I : BGI yang berkaitan dengan Batuan Sedimen,

kelompok ini dapat dibagi menjadi :

    Sub Kelompok A : BGI yang berkaitan dengan batugamping : Batugamping, dolomit, kalsit, marmer, oniks, Posfat, rijang, dan gipsum.
    Sub Kelompok B : BGI yang berkaitan dengan batuan sedimen lainnya : bentonit, ballclay dan bondclay, fireclay, zeolit, diatomea, yodium, mangan, felspar.

b.   Kelompok II, BGI yang berkaitan dengan batuan gunung api : obsidian, perlit, pumice, tras, belerang, trakhit, kayu terkersikkan, opal, kalsedon, andesit dan basalt, paris gunung api, dan breksi pumice.

c.   Kelompok III, BGI yang berkaitan dengan intrusi plutonik batuan asam & ultra basa : granit dan granodiorit, gabro dan peridotit, alkali felspar, bauksit, mika, dan asbes

d.   Kelompok IV, BGI yang berkaitan dengan batuan endapan residu & endapan letakan : lempung, pasir kuarsa, intan, kaolin, zirkon, korundum, kelompok kalsedon, kuarsa kristal, dan sirtu

e.    Kelompok V, BGI yang berkaitan dengan proses ubahan hidrotermal : barit, gipsum, kaolin, talk, magnesit, pirofilit, toseki, oker, dan tawas.

f.    Kelompok VI, BGI yang berkaitan dengan batuan metamorf : kalsit, marmer, batusabak, kuarsit, grafit, mika dan wolastonit.

 2.2.2. Penggolongan bahan galian industri berdasarkan pemanfaatannya

Sebagaimana telah dituliskan pada bagian sebelumnya, bahan galian industri adalah bahan galian tambang bukan bijih yang digunakan sebagai bahan baku industri; penggunaan dalam industri banyak ditentukan oleh sifat fisika seperti warna, ukuran partikel, kekerasan, plastisitas, daya serap, dan lain-lain. Adapun bahan bangunan / bahan galian kontruksi tidak lain adalah bahan galian industri yang belum disebtuh rekayasa teknik. Oleh sebab itu, dengan semakin majunya rekayasa teknik tidak tertutup kemungkinan jenis bahan galian industri akan bertambah jenisnya.

Berbagai klasifikasi bahan galian industri telah dipublikasikan oleh para ahli, namun sampai saat ini masih terus didiskusikan. Para ahli tersebut umumnya, mengelompokkan Bahan Galian Industri berdasarkan pemanfaatannya, misalnya Noetsaller (1988) "Profile of Industrial Minerals by End-uses Classes", dan lain-lain.

2.3.
Manfaat bahan galian berdasarkan klasifikasinya dan lokasinya di indonesia

Pemanfaatan bahan galian adalah langkah positif yang tak terhindarkan untuk mencukupi kebutuhan yang telah di tentukan oleh harga pasar mineral yang selalu mendorong upaya eksploitasi bahan galian semaksimal mungkin.

    Bahan galian A yaitu memiliki sifat sangat strategis dan memiliki nilai bagi negara
        Aspal

Tambang aspal terdapat di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Aspal juga dihasilkan oleh Permigan Wonokromo, Jawa timur, sebagai hasil pengolahan minyak bumi.

    Kobalt
    Deskripsi fisik yang ditunjukkan kobalt adalah bersifat brittle, keras, dan merupakan transisi logam dengan magnet. Kobalt juga terdapat dalam meteorit. Endapan mineralnya dijumpai di Zaire, Morocco dan Canada. Cobalt-60 (60Co) dapat membentuk isotop buatan dengan tembakan sinar gamma (energy radiasi tinggi). Garam kobalt salts berwarna biru gelap dan seperti gelas atau bening. Banyak digunakan dalam industri. Digunakan juga untuk bahan dasar perasa makanan yang mengandung vitamin B12 dalam kadar yang tinggi.
    Batubara   

Batu bara terbentuk dari tumbuhan yang tertimbun hingga berada dalam lapisan batu-batuan sediment yang lain. Proses pembentukan batu bara disebut juga inkolent yang terbagi menjadi dua, yaitu prose biokimia dan proses metamorfosis

Daerah-daerah penghasil batubara adalah :

    Bukitasam : Pusatnya di Tanjungenim, Sumatra Selatan.
    Kotabaru : Pulau Laut, Kalimantan Selatan.
    Sungai Berau : Pusatnya di Samarinda, Kalimantan Timur.
    Umbilin : Pusatnya di Sawahlunto, Sumatra Barat

Selain itu, tambang batubara terdapat juga di Bengkulu, Jawa Barat, Papua dan Sulawesi Selatan. Tambang batubara dusahakan oleh PN Batubara.

    Minyak bumi

Minyak bumi berasal dari mikroplankton yang terdapat di danau-danau, teluk-teluk, rawa-rawa dan laut-laut dangkal. Sesudah mati mikroplankton berjatuhan dan mengendap di dasar laut kemudian  bercampur dengan sedimen. Akibat tekanan lapisan-lapisan atas dan pengaruh panas magma, dan terjadilah proses destilasi hingga terjadi minyak bumi kasar.

    Tambang Minyak Bumi

Tambang minyak bumi antara lain terdapat di :

    Babo : Papua
    Cepu : Jawa Tengah
    Delta Sungai Berantas : Jawa Timur
    Dumai : Riau
    Kembatin : Kalimantan Tengah
    Kepulauan Natuna : Riau
    Klamano    : Papua
    Lhokseumawe : DI Aceh
    Majalengka : JawaBarat
    Peureuk    : Jawa Barat
    Plaju : Sumatra Selatan
    Pulau Bunyu : KalimantanTimur
    Pulau Seram : Maluku
    Pulau Tarakan : Kalimantan Timur
    Pulau Tenggara : Maluku
    Surolangun : Jambi
    Sorong : Papua
    Sungai Gerong : Sumatra Selatan
    Sungai Mahakam : Kalimantan Timur
    Sungai Paking : Riau
    Tanjungpura : SumatraUtara

    Pabrik Pengolahan Minyak Bumi

Pabrik pengolahan minyak  bumi antara lain terdapat di :

    Balikpapan : Kalimantan Timur
    Cepu : Jawa Tengah
    Cilacap    : Jawa Tengah
    Pangkalan Brandan : SumatraUtara
    Plaju : Sumatra Selatan
    Sungai Gerong : Sumatra Selatan
    Wonokromo : Jawa Timur

    Hasil Olahan Minyak Bumi

Dari minyak bumi dapat diolah menjadi bensol, bensin. Minyak tanah, premium, vaselin, parafin, malam, malariol, kerosin dan aspal.

    Pelabuhan-Pelabuhan  Minyak

Pelabuhan minyak terdapat di Balikpapan, Pangkalansusu, Plaju,Pulau Sambu. Samudrapura, Sabang, Sungai Gerong, Tanjung Perak. dan Tarakan.

    Pengusaha Nasional dan Asing Minyak Bumi di Indonesia
        Pengusaha nasional Pertamina (Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Nasional) dan Permigan.
        Pengusaha asing PT Caltex (California Texas Oil Company). PT Stanvac Indonesia (PTSI) dan NNGPM (Nederlandse New Guinea Petralium Maatcappy).

    Timah

Tambang timah terdapat di :

    Bangkinang : Riau   
    Dabo : Pulau Singkep
    Manggar : Pulau Belitung
    Sungai Liat : Pulau Bangka

Pabrik pelabuhan bijih timah terdapat di Muntok (Pulau Belitung)

    Nikel

Terdapat di sekitar Danau Matana, Danau Towuti dan di Kolaka. Dapat digunakan dalam baja tahan karat dalam pipa tekanan tinggi yaitu pada bagian automotif dan mesin.Nikel banyak terdapat di Kalimantan Barat, Maluku, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

    Gas Alam

Gas alam merupakan campuran beberapa hidrokarbon dengan kadar karbon kecil yang digunakan sebagai bahan baker. Ada dua macam gas alam cair yang diperdagangkan, yaitu LNG ( liquefied natural gas ) dan LPG ( liquefied petroleum gas). Gas alam terdapat di Arun (Di Aceh) dan Bontang (Kalimantan). Gas alam Juga terdapat di daerah Jawa Barat, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan.

    Uranium

Uranium adalah bahan yang bersifat radioaktif. Uranium telah digunakan untuk membuat bom atom. Sekarang uranium digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik dan menjadi bahan bakar yang berharga.

Bijih uranium tersebut diolah menjadi bubuk kuning untuk diangkut. Kemudian bubuk kuning itu diolah menjadi bentuk-bentuk yang berlainan sesuai dengan penggunaannya. Uranium digunakan sebagai bahan bakar dalam reaktor nuklir dan digunakan sebagai isotop radioaktif untuk mengobati orang yang sakit kanker.

    Bahan galian B yaitu golongan bahan galian vital yang memiliki nilai ekonomis tang tinggi.

    Bauksit

    Bauksit adalah bahan baku almunium. Tambang bauksit terdapat di pulau Bintan (Riau) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Selain itu, terdapat pula di Kalimantan Tengah.
    Emas

    Tempat ditemukan : Sulida, Sumatra Barat

    Sistem Kristal : Isometrik

    Warna : Kuning – Emas

    Goresan : Kuning

    Kilap : Metalik

    Belahan dan pecahan : Tak – ada ; hakli ( pecahan bergerigi dengan ujung yang tajam ).

    Kekerasan : 2,5 – 3

    Berat jenis : 19,3

    Genesis : kebanyakan emas terdapat dalam urat-urat kuarsa yang terbentuk melalui proses hidrotermal; dan sering bersama-sama pirit dan mineral-mineral sulfida yang lain, telurid perak-emas, skhelit dan turmalin. Bila urat-urat mengandung emas melapuk, maka emas-emas akan terpisah dan kemudian mengendap sebagai deposit eluvial, atau terangkut oleh aliran air dan mengendap di suatu tempat sebagai deposit letakan (placer deposit), bersama pasir, dan atau kerikil-kerakal. Manfaat : sumber logam emas; dipakai untuk membuat perhiasan, instrumen-instrumen saintifik, lempengan elektrode, pelapis gigi dan emas lantakan.
    Intan

    Tempat Ditemukan : Martapura, Kalimantan

    Sistem Cristal : isometrik.

    Warna : umumnya kuning pucat, atau tak berwarna, dapat pula coklat, putih

    sampai putih kebiruan, jingga, merah muda, biru, merah, hijau, atau hitam.

    Goresan : putih

    Belahan dan pecahan : sempurna pada ( 111 ) ; konkoidal.

    Kekerasan : 10

    Berat jenis : 3,50

    Genesis : intan terbentuk pada pembentukan batuan beku ultrabasa, yaitu porfiri-olivin, atau porfiri kaya-flogopit; batuan ini dikenal sebagai kimberlit. Dapat dijumpai dalam deposit aluvial, baik di sungai-sungai maupun di pantai.

    Manfaat : digunakan dalam industri sebagai alat pemotong kaca, pengasah, dipasang pada mata bor untuk eksplorasi; dan dijadikan batu permata.
        Belerang

        Belerang digunakan sebagai bahan obat patek dan korek api. Tambang belerang terdapat di gunung Patuha (Jawa Barat) dan Gunung Welirang (Jawa Timur). Selain itu, terdapat pula di Jambi, Jawa Tengah, dan Sulawesi.
    Yodium

    Tambang Yodium terdapat di Semarang( Jawa Tengah) dan Jombang (Jawa Timur). Yodium digunakan untuk bahan obat dan peramu garam dapur.
        Mangan

        Tambang mangan terdapat di Kliripan (DI Yogyakarta) dan Tasikmalaya (Jawa Barat). Tambang mangan juga terdapat di Lampung, Maluku, NTB dan Sulawesi Utara.

    7. Tembaga

    Tambang tembaga terdapat di :
        Cikotok    : JawaBarat
        Kompara    : Papua   
        Sangkarapi : Sulawesi Selatan
        Tirtamaya : Jawa Tengah

    Selain itu, terdapat juga di daerah Jambi dan Sulawesi Tengah.

    Sistem cristal : isometrik.

    Warna : Merah-tembaga , atau merah-mawar terang.

    Goresan : Merah metalik.

    Belahan dan pecahan : Tak ada ; hakli

    Kekerasan : 2,5 – 3.

    Berat Jenis : 8,94.

    Genesis : sejumlah kecil tembaga nativ dijumpai pada zona oksidasi dalam deposit tembaga yang berasosiasi dengan kuprit, malakit dan azurit. Deposit primer umumnya berasosiasi dengan batuan beku basa ekstrutif, dan tembaga nativ terbentuk dari pengendapan yang dihasilkan dari reaksi antara larutan hidrotermal dan mineral-mineral oksidasi besi. Pada deposit tipe ini, tembaga nativ berasosiasi dengan khalkosit, bornit, epidot, kalsit, prehnit, datolit, khlorit, zeolit dan sejumlah kecil perak nativ. Manfaat : sumber minor bijih tembaga, banyak digunakan dalam kelistrikan, umumnya sebagai kawat, dan untuk membuat logam-logam campuran, seperti kuningan (campuran tembaga dan seng), perunggu (campuran tembaga dan timah dengan sedikit seng) dan perak Jerman (campuran tembaga seng dan nikel).

    8. Perak, Ag

    Tempat ditemukan : Irian Jaya

    Sistem Kristal : Isometrik.

    Warna : Putih – Perak

    Goresan : Coklat, atau abu-abu sampai hitam.

    Belahan dan Pecahan : Tak – ada

    Kekerasan : 2,5 – 3.

    Berat Jenis : 10,5.

    Genesis : sejumlah kecil perak nativ dapat dijumpai dalam zone oksidasi pada suatu deposit bijih, atau sebagai deposit yang mengendap dari larutan hidrotermal primer. Ada 3 jenis deposit primer, yaitu: 1. Barasosiasi dengan sulfida, zeolit, kalsit, barit, fluorit dan kuarsa, 2. Barasosiasi dengan arsenida dan sulfida kobalt, nikel dan perak, dan bismut nativ, dan 3. Berasosiasi dengan uraninit dan mineral- mineral nikel-kobalt.

    Manfaat : sumber logam perak; dipakai untuk membuat perhiasan, alat-alat makan-minum, barang-barang kerajinan tangan, alat-alat elektronik, penyepuhan dan sebagai emulsi film fotografi.

    9. Bismut, Bi

    Tempat Ditemukan : -

    Sistem Cristal : Trigonal .

    Warna : Putih perak dan corak kemerahan.

    Goresan : putih – perak berkilau.

    Belahan dan pecahan : sempurna pada ( 0001 ).

    Kekerasan : 2 – 2,5.

    Berat jenis : 9,7 -9,8.

    Genesis : Terbentuk secara hidrotermal, dapat dijumpai dalam urat-urat bersama

    bijih kobalt, nikel, timah, dan perak ; dapat juga dalam pegmatit.

    Manfaat : Sumber logam bismut ; digunakan dalam sekering listrik, obat dan kosmetik.

    Bahan galian C yaitu golongan bahan galian yang digunakan oleh industri.

    Marmer

    Tambang marmer terdapat di Besok, daerah Wijak, Tulungagung (Jawa Timur). Tambang marmer juga terdapat di DI Yogyakarta, Lampung, Papua dan Sumatra Barat.

    2. Garam Batu

    Garam batu digunakan untuk  bahan obat-obatan. Garam batu banyak terdapat di Kepulauan Kei.

    3. Mika

    Tambang mika terdapat di Pulau Paleng (Sulawesi Selatan) dan Donggala (Sulawesi Tengah).

    4. Gips

    Gips banyak digunakan dalam industry keramik. Gips ditambang di daerah Cirebon, Rembang, Kalianget, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
    Granit

    Tambang granit terdapat di DI Yogyakarta, Lampung dan Riau.

    6. Asbes

    Tambang asbes terdapat di :
        Kuningan : Jawa Barat
        Papua
        Pulau Halmahera : Maluku
        Pulau Seram : Maluku
    Grafit

    Tempat Ditemukan : Kepulauan Semrau, Sanggau, Kal-Bar

    Sistem Cristal : Heksagonal .

    Warna : Hitam.

    Goresan : Hitam.

    Belahan dan pecahan : Sempurna pada ( 0001 ) ; tak ada

    Kekerasan : 1 – 2.

    Berat jenis : 2,09 – 2,23Genesis : terbentuk pada lingkungan batuan metamorf, baik pada metamorf fisme regional, atau kontak. Dapat dijumpai pada batu gamping kristalin, genes, sekis, kuarsit, dan lapisan batubara termetamorf.

    Manfaat : digunakan dalam industri sebagai alat pemotong kaca, pengasah, dipasang pada mata bor untuk eksplorasi; dan dijadikan batupermata. Grafit digunakan sebagai bahan pembuat pensil.
    Tras

    Tras adalah sejenis batu truf. Banvak ditampung di Gunung Mulia (Jawa Tengah) dan daerah Priangan (Jawa Barat) selain itu terdapat juga di Sumatra Barat. Tras adalah batuan gunung api yang telah mengalami perubahan komposisi kimia yang disebabkan oleh pelapukan dan pengaruh kondisi air bawah tanah. Bahan galian ini berwarna putih kekuningan hingga putih kecoklatan, kompak dan padu dan agak sulit digali dengan alat sederhana. Kegunaan tras adalah untuk bahan baku batako, industri semen, campuran bahan bangunan dan semen alam. Pada saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, namun secara lokal telah dimanfaatkan penduduk untuk pembuatan batako.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar